Sabtu, 17 November 2012

Nama Rumah Adat atau Bangunan Adat Tradisional Nusantara
Sebagai sebuah negeri kepulauan yang kaya akan keanekaragaman budaya dan bahasa daerah, Indonesia juga memiliki kekayaan khas berupa jenis-jenis rumah tradisional atau bangunan adat yang beraneka ragam, mulai dari ujung barat hingga ujung timur nusantara. Seiring dengan perkembangan jaman, manusia cenderung memiliki konep-konsep baru yang lebih modern tentang desain/arsitektur rumah. Namun, bukan berarti kita lantas melupakan khazanah berupa desain rumah yang telah ada di nusantara sejak dari jaman nenek moyang. Berikut nama-nama Rumah Adat atau Bangunan Adat Tradisional Nusantara : 
1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD Rumah Adat Tradisional : Rumoh aceh
2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut Rumah Adat Tradisional : Rumah balai batak toba
3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar Rumah Adat Tradisional : Rumah gadang
4. Provinsi Riau Rumah Adat Tradisional : Rumah melayu selaso jatuh kembar
5. Provinsi Jambi Rumah Adat Tradisional : Rumah panggung
6. Provinsi Sumatera Selatan / Sumsel Rumah Adat Tradisional : Rumah limas
7. Provinsi Lampung Rumah Adat Tradisional : Nuwo sesat
8. Provinsi Bengkulu Rumah Adat Tradisional : Rumah bubungan lima
9. Provinsi DKI Jakarta Rumah Adat Tradisional : Rumah kebaya
10. Provinsi Jawa Barat / Jabar Rumah Adat Tradisional : Kesepuhan
11. Provinsi Jawa Tengah / Jateng Rumah Adat Tradisional : Rumah joglo
12. Provinsi DI Yogyakarta / Jogja / Jogjakarta Rumah Adat Tradisional : Rumah joglo
13. Provinsi Jawa Timur / Jatim Rumah Adat Tradisional : Rumah joglo
14. Provinsi Bali Rumah Adat Tradisional : Gapura candi bentar
15. Provinsi Nusa Tenggara Barat / NTB Rumah Adat Tradisional : Dalam loka samawa
16. Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT Rumah Adat Tradisional : Sao ata mosa lakitana
17. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar Rumah Adat Tradisional : Rumah panjang
18. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng Rumah Adat Tradisional : Rumah betang
19. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel Rumah Adat Tradisional : Rumah banjar
20. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim Rumah Adat Tradisional : Rumah lamin
21. Provinsi Sulawesi Utara / Sulut Rumah Adat Tradisional : Rumah bolaang mongondow
22. Provinsi Sulawesi Tengah / Sulteng Rumah Adat Tradisional : Souraja / Rumah besar
23. Provinsi Sulawesi Tenggara / Sultra Rumah Adat Tradisional : Laikas
24. Provinsi Sulawesi Selatan / Sulsel Rumah Adat Tradisional : Tongkonan
25. Provinsi Maluku Rumah Adat Tradisional : Baileo
26. Provinsi Irian Jaya / Papua Rumah Adat Tradisional : Rumah honai
27. Provinsi Timor-Timur / Timtim Rumah Adat Tradisional : TT
 Keterangan Singkatan : TT = Tidak Tersedia Keterangan : Data ini berdasarkan jaman Indonesia masih 27 propinsi dengan provinsi terakhir masih timor timur. Timor timur kini sudah terpisah dari NKRI menjadi negara baru yang berdaulat dengan nama Timor Leste.


Rumah Tradisional Nusantara Berkonsep Tahan Gempa
Fenomena gempa yang beruntun terjadi di Tanah Air membuat masyarakat mulai melirik rumah tahan gempa. Padahal, rumah tradisional Nusantara sudah dibangun dengan konsep tahan gempa.Sejak bencana tsunami dan gempa, disebutkan publik di kawasan Asia berlomba membangun rumah knock down alias bongkar pasang. Rumah yang diyakini tahan gempa tersebut diminati oleh warga Indonesia, SriLanka, India, Thailand dan Malaysia. Uniknya, mereka justru mengincar rumah tradisional Bali."Bukan hanya rumah tradisional Bali, tapi hampir semua rumahtradisional kita dirancang dengan kemampuan tahan gempa," ujar Kusumawijaya, arsitek dan pengamat tata kota kepada SH di Jakarta, Senin(11/4). Konsep tahan gempa ini adalah sebuah rumah dibangun untuk ikut bergerak ketika terjadi gerakan tanah namun tidak mengalami disintegrasi atau kehancuran. Marco menandaskan, bahan ditilik memiliki kelonggaran satu bagian dengan bagian lain, dengan demikian apabila terjadi guncangan maka tidak langsung merusak bagian lainnya. Di samping itu bahan kayu jauh lebih enteng dibanding dengan beton, maka jika rubuh tidak akan mengakibatkan luka separah bahan beton. "Tapi pengertian tahan gempa di sini tidak berlaku untuk seluruh parameter. Ada batasan tertentu, yakni pada skala berapa rumah itu bisa bertahan. Kalau yang terjadi di Aceh dan Nias jelas sudah tak berlaku lagi karena tergolong gempa besar," tambah Marco. kali-kali yang saling berkaitan membuat onsep bongkar pasang. Rumah tradisional Bali terhitung banyak diincar. Ini disebabkan rumah tersebut memiliki struktur tahan gempa. Made Suma, tenaga pemasaran pada sebuah perusahaan ekspor rumah gaya Pulau Dewata banyak memesan rumah bergaya khas Bali, yang semua bahannya terbuat dari kayu seperti tiang penyangga, dinding, termasuk pacek (pakunya), kecuali atap yang terbuat dari ilalang. Rumah bergaya Bali yang dibuat secara knock down, banyak dikapalkan ke luarnegeri, karena diproduksi dengan gampang dan praktis sehingga mudah dipasang kembali setelah tiba di negeri konsumen. Rumah-rumah khas gaya tradisional Bali yang diproduksi sesuai permintaan konsumen, ibuat dengan sistem knock down sehingga memudahkan pengiriman dan setelah tiba di negara pemesan tinggal dirakit sendiri oleh pembelinya.Seperti kata Marco, bukan hanya Bali, melainkan mayoritas rumah tradisional Nusantara memiliki konsep tahan gempa. Di Nias, kawasan yang belum lama ini terkena gempa misalnya, memang sudah memiliki kearifan tradisional dari para arsitek masa lalunya. Sayang rumah semacam ini sudah mulai bisa dihitung dengan jari. Rumah tradisional tahan gempa bisa ditemui di Sihare'o Siwahili, desa di Nias Utara.Prinsip Tahan Gempa Rumah-rumah di Nias, walaupun tidak bereaksi ketika digoyang, secara bijak dirancang dengan prinsip tahan gempa. Ini disebabkan memang warga setempat sudah mengetahui bahwa daerahnya merupakan kawasan rawan gempa. Di bagian kaki bangunan kolom-kolom terbagi menjadi du jenis, yaitu kolom struktur utama yang berdiri dalam posisi tegak dan kolom penguat yang terletak dalam posisi silang-menyilang membentuk huruf X miring. Balok kayu ataupun batu besar sengaja diletakkan di sela- sela kolom Sedangkan ujung atas kolom tegak dihubungkan dengan balok penyangga melalui sambungan sistem pasak yang kemudian ditumpangi balok-balok lantai di atasnya. Kolom-kolom diagonal, tanpa titik awal maupun akhir, jalin-menjalin untuk menopang bangunan berdenah oval dengan kantilever mengelilingi seluruh sisi lantai denah. Bagaikan sabuk, rangkaian balok dipasang membujur sekeliling tubuh bangunan. Di atas sabuk bangunan, sirip-sirip tiang dinding berjarak 80 sentimeter dipasang berjajar dengan posisi miring ke arah luar. Di antara sirip-sirip dipasang dinding pengisi dari lembaran papan. Pemakaian kolong memang bukan satu-satunya di Nias. Di beberapa wilayah Nusantara, kolong di samping mengemban fungsi struktur juga menciptakan ruang yang cukup efektif untuk menyiasati masala kelembaban yang ditimbulkan iklim tropis.Rumah Contoh Rumah tahan gempa lain berasal dari Muara Bangkahulu, Bengkulu.Konsep rumah ini kembali dibudidayakan oleh Tim Asistensi Teknis Mitigasi Bencana dan Aplikasi Rekayasa Forensik Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi (KMNRT). Konsep dasar bangunan tahan gempa pada dasarnya adalah upaya untuk membuat seluruh elemen rumah menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak lepas atau runtuh akibat gempa. Penerapan konsep tahan gempa antara lain dengan cara membuat sambungan yang cukup kuat di antara berbagai elemen tersebut serta pemilihan material dan pelaksanaan yang tepat. Konsep rumah contoh yang dikembangkan KMNRT tidak hanya mengacu kepada konsep desain tahan gempa saja, akan tetapi mencakup konsep pemanfaatan material setempat, budaya masyarakat dalam membangunrumah, serta aspek kemudahan pelaksanaan. Di bagian fondasi menggunakan sistem fondasi batu kali, hubungan antara sloof dengan fondasi dipergunakan angker setiap 0.5 meter. Hal ini dimaksudkan supaya ada keterikatan antara fondasi dan sloof, sehingga pada saat terjadinya gempa ikatan antara fondasi dan sloof tidak lepas. Selain di Bengkulu dan Nias, sejumlah daerah lain juga memiliki kearifan tradisional rumah tahan gempa. Sebut saja Makassar, Alor,juga Yogyakarta serta daerah lainnya. Sayangnya rumah-rumah tradisional ini mulai dilupakan banyak orang yang cenderung menyukai rumah bergaya Barat. Bukan hanya rumah tradisional, pada dasarnya semua rumah di Indonesia memang sengaja dirancang tahan gempa kalau memang memenuhi syarat. "Ketika sebuah bangunan didirikan, maka harus memenuhi syarat tertentu. Syarat itu antara lain harus dibangun dengan kekuatan dan bahan tertentu yang memungkinkan tahan guncangan. Tapi apakah syarat itu memang dipenuhi atau tidak, lain persoalan,tegas Marco.

  Rumoh Aceh Rumah tradisionil Nangroe Aceh Darusalam







         Rumoh Aceh Gayo      




                                                     



Rumah Tradisional Batak/Tapanuli Sumatera Utara


Rumah adat keempat adalah rumah adat Batak Toba yang disebut Rumah Bolon, berbentuk empat persegi panjang dan kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah. Lantai rumah kadang-kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam, dan sebagainya. Dahulu pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi. Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun berdiam disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan, karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat. Ruangan di belakang sudut sebelah kanan disebut jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau por jabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Ruangan ini dahulu dianggap paling keramat. Di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong disebut Jabu Soding diperuntukkan bagi anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Di sudut kiri depan disebut Jabu Suhat, untuk anak laki-laki tertua yang sudah kawin dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu. Bila keluarga besar maka diadakan tempat di antara 2 ruang atau jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah 2 lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan tambahan. Di antara 2 deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah. Bangunan lain yang mirip dengan rumah adalah sapo yakni seperti rumah yang berasal dari lumbung tempat menyimpan, kemudian didiami. Perbedaannya dengan rumah adalah : Dopo berlantai dua, hanya mempunyai satu baris tiang-tiang depan dan ruangan bawah terbuka tanpa dinding berfungsi untuk musyawarah, menerima orang asing dan tempat bermain musik. Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan. Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu masuk. Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang, mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu hitam, putih dan merah. Semua rumah adat tersebut di atas bahannya dari kayu baik untuk tiang, lantai serta kerangka rumah berikut pintu dan jendela, sedangkan atap rumah terbuat dari seng. Di anjungan Sumatera Utara, rumah-rumah adat yang ditampilkan mengalami sedikit perbedaan dengan rumah adat yang asli di daerahnya. Hal ini disesuaikan dengan kegunaan dari kepraktisan belaka, misalnya tiang-tiang rumah yang seharusnya dari kayu, banyak diganti dengan tiang beton. kemudian fungsi ruangan di samping untuk keperluan ruang kantor yang penting adalah untuk ruang pameran benda-benda kebudayaan serta peragaan adat istiadat dari delapan puak suku di Sumatera Utara. Benda-benda tersebut meliputi alat-alat musik tradisional, alat-alat dapur, alat-alat perang, alat-alat pertanian, alat-alat yang berhubungan dengan mistik, beberapa contoh dapur yang semuanya bersifat tradisional. Sedangkan peragaan adat istiadat dan sejarah dilukiskan dalam bentuk diorama, beberapa pakaian pengantin dan pakaian adat dan sebagainya. 





                                      


Rumah Lumbung Padi 




Rumah Adat Tradional Nias
Rumah adat keempat adalah rumah adat Batak Toba yang disebut Rumah Bolon, berbentuk empat persegi panjang dan kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah. Lantai rumah kadang-kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam, dan sebagainya. Dahulu pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi. Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun berdiam disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan, karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat. Ruangan di belakang sudut sebelah kanan disebut jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau por jabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Ruangan ini dahulu dianggap paling keramat. Di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong disebut Jabu Soding diperuntukkan bagi anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Di sudut kiri depan disebut Jabu Suhat, untuk anak laki-laki tertua yang sudah kawin dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu. Bila keluarga besar maka diadakan tempat di antara 2 ruang atau jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah 2 lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan tambahan. Di antara 2 deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah. Bangunan lain yang mirip dengan rumah adalah sapo yakni seperti rumah yang berasal dari lumbung tempat menyimpan, kemudian didiami. Perbedaannya dengan rumah adalah : Dopo berlantai dua, hanya mempunyai satu baris tiang-tiang depan dan ruangan bawah terbuka tanpa dinding berfungsi untuk musyawarah, menerima orang asing dan tempat bermain musik. Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan. Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu masuk. Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang, mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu hitam, putih dan merah. Semua rumah adat tersebut di atas bahannya dari kayu baik untuk tiang, lantai serta kerangka rumah berikut pintu dan jendela, sedangkan atap rumah terbuat dari seng. Di anjungan Sumatera Utara, rumah-rumah adat yang ditampilkan mengalami sedikit perbedaan dengan rumah adat yang asli di daerahnya. Hal ini disesuaikan dengan kegunaan dari kepraktisan belaka, misalnya tiang-tiang rumah yang seharusnya dari kayu, banyak diganti dengan tiang beton. kemudian fungsi ruangan di samping untuk keperluan ruang kantor yang penting adalah untuk ruang pameran benda-benda kebudayaan serta peragaan adat istiadat dari delapan puak suku di Sumatera Utara. Benda-benda tersebut meliputi alat-alat musik tradisional, alat-alat dapur, alat-alat perang, alat-alat pertanian, alat-alat yang berhubungan dengan mistik, beberapa contoh dapur yang semuanya bersifat tradisional. Sedangkan peragaan adat istiadat dan sejarah dilukiskan dalam bentuk diorama, beberapa pakaian pengantin dan pakaian adat dan sebagainya. 






Rumah Gadang dan rumah tradisional Mentawai - Sumbar






Rumah Tradisional Mentawai



Rumah Adat Tradisional Riau












Rumah suku sakai Riau





Rumah Adat Tradisional Bangka Belitung








Rumah Adat Tradisional Jambi Rumah Panggung


Lumbung Padi Dalam masyarakat agraris....maka adat rumah panggung Jambi juga membuat lumbung untuk penyimpanan padi hasil panen mereka Rumah Panggung Adat Jambi 







Rumah adat Bengkulu












Rumah Tradisional Pulau Enggano




Rumah Adat Limas Sumatera Selatan 









 Rumah Adat  - Lampung 

Arsitektur Tradisional Lampung

Khasanah arsitektur tradisional Lampung  bisa dibilang sebagai warisan leluhur budaya yang tidak akan dapat ditemukan lagi di lingkungan masyarakatnya. Selain ahli warisnya tidak merasa memiliki tradisi ini karena tidak pernah mempelajari kekayaan nilai yang melatarbelakangi pembangunannya, juga disebabkan factor domestic terkait pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kemiskinan masyarakat adat di perkampungan-perkampungan negeri (kampung asli masyarakat adat Lampung) (baca: tulisan saya tentang Marga Smuong, Marginalisasi Masyarakat Adat di Media Indonesia edisi 3 Desember 2007), berimplikasi terhadap upaya mereka untuk melestarikan tradisi-tradisi warisan leluhur budayanya.
Kondisi seperti ini sangat dirasakan masyarakat adat Lampung keturunan Buay Pernong di Kabupaten Lampung Barat. Rumah adat milik masyarakat adat di Pekon Batubekhak (baca=batu berak), daerah yang diyakini sebagai asal mula masyarakat adat Lampung, diperkirakan berusia 200—500 tahun, berdiri goyah pada fondasi tiang-tiang berdiameter 0,5—1 meter. Bangunan yang memiliki nilai sejarah arsitektur ini telah berulang-ulang direnovasi, namun renovasi justru menghilangkan nilai-nilai sejarahnya.
Akibat pengetahuan para “tukang” tentang tradisi arsitektur Lampung sangat rendah, bahkan tidak punya sama-sekali, membuat perubahan mendasar pada struktur-struktur bangunan. Tiang-tiang yang penuh ragam ornamen menggambarkan realitas kehidupan leluhur budaya masyarakat Lampung, dibuang dan diganti dengan tiang-tiang baru. Tiang asli dibiarkan melapuk dan dirubuki rayap atau dibakar seolah-olah tak ada nilai pentingnya bagi kehidupan saat ini. Atap rumah yang mestinya ijuk, diganti dengan seng, belum lagi struktur ruang dalam dan ornamen-ornamen luarnya.
Rumah berbentuk persegi empat ini, berdiri di atas tiang-tiang, dan pintu masuk berupa tangga. Rumah ini awalnya bukan sekedar tempat tinggal bagi masyarakat adat keturunan Buay Pernong, melainkan sebuah bangunan penuh struktur simbolik yang mengandung nilai-nilai kebudayaan masyarakat penganutnya. Rumah ini merupakan perwujudan fisik dari masyarakat adat Buay Pernong, sebuah kosmologi cultural, dimana tergambar jelas stratifikasi masyarakat ini secara sosial. Dalam pandangan sejarah cultural sebagaimana diyakini sebagian masyarakat adat di Kabupaten Lampung, Buay Pernong dibandingkan buay-buay lainnya adalah perwujudan masyarakat yang memiliki kelas sosial lebih sejahtera dan hidup yang suka berpoya-poya.
Sayang, pengetahuan masyarakat Lampung atas sejarah arsitekturnya sangat rendah. Tidak adanya penelitian yang konprehensif menyebabkan peninggalan leluhur budayaan ini sulit diwariskan, sehingga dikhawatirkan tradisi ini akan mengalami kepunahan yang apat merugikan para ahli warisnya. Padahal, sejarah sangat penting bagi manusia saat ini. Setiap arus waktu yang telah berlalu tak akan dapat lagi kembali, namun mengupayakan masa lalu untuk hadir di tengah-tengah kehidupan hari ini menjadi prestasi yang pantas dibanggakan guna merenungkan apa yang telah kita lakukan selama ini. Manusia, menurut Martin Heidegger (1889-1976), ditandai ciri historisitas (historicity). Manusia adalah subjek sekaligus objek sejarah. Di satu sisi, manusia terlahir dalam suatu kubangan sejarah tertentu yang akan terus membentuknya sepanjang waktu, sementara ia sendiri juga senantiasa berusaha melakukan pergulatan-pergulatan dalam bentuk inovasi-inovasi kreatif dalam rangka menampakkan jejak langkahnya di antara lorong-lorong sejarah.
Historisitas ini tidak saja melekat pada level individu, juga berkait dengan tatanan kebudayaan suatu masyarakat. Kontinuitas perkembangan suatu peradaban direkam dan dirawat dalam dan melalui pita sejarah. Dalam wadah sejarah itulah akar tradisi yang mewujud nilai-nilai luhur diseduh untuk merengkuh identitas bersama masyarakat. Tetapi dalam masyarakat Lampung, kesadaran terhadap sisi historisitas itu, baik dalam level individu maupun sosio-kultural, sama sekali tidak muncul dalam hal melestarikan arsitektur tradisional. Ini dapat dilihat dari pembangunan rumah-rumah baru sebagai upaya pelestarian tradisi arsitektur ini, hampir tidak pernah dilakukan sejak pertengahan abad ke-19.
Masyarakat tradisional Lampung berhenti membangun rumah-rumah tradisional karena kolonialisme Belanda menerapkan hukum yang melarang melakukan penebangan pohon secara liar, sehingga rumah-rumah tradisional yang 100% bahan bakunya kayu, tidak bisa lagi dibangun. Kalau saat itu tetap ada masyarakat yang membangun rumah, mereka merupakan keluarga tokoh adat (saibatin) atau para pemilik kebun cengkih dan kopi yang memang mendapat perlakuan-perlakuan khusus dari Pemerintah Hindia Belanda. Namun, izin pembangunan rumah tradisional (sekaligus menjadi izin penebangan pohon) baru bisa keluar apabila si pemilik rumah menyetujui tawaran dari Pemerintah Hindia Belanda terkait penggunaan ornamen-ornamen khas Eropa (Belanda) pada rumah tersebut.
Karena kebijakan politik Pemerintah Hindia Belanda inilah, banyak rumah di lingkungan masyarakat tradisional yang mulai mengenal penggunaan bahan tembaga (ini muncul pada ornamen untuk jendela), mengenal penggunaan semen untuk tangga, dan ornamen pada pagar dari besi campur tembaga yang dicor. Lama kelamaan ornamen-ornamen Eropa mulai banyak dipergunakan masyarakat, bukan saja karena kebijakan dari Pemerintah Hindia Belanda, melainkan juga karena ornamen-ornamen itu dianggap mewakili kelas sosial masyarakat. Semakin bergaya Eropa desain sebuah rumah, status ekonomi pemilik rumah tersebut dipandang semakin tinggi. Sebab, untuk menghasilkan bangunan bergaya Eropa, perlu tukang-tukang khusus yang didatangkan dari Meranjat (Sumatra Selatan) dan untuk membayar mereka setiap orang mesti mengeluarkan dana sekitar 25.000 Golden.
Pengaruh arsitektur Eropa merupakan salah satu babakan dari perkembangan arsitektur tradisional Lampung. Dari penelitian yang penulis lakukan, pengaruh arsitektur Eropa yang paling bertanggung jawab atas punahnya tradisi arsitektur Lampung. Masa ini diperkirakan sekitar 1840 sampai sekarang, dimana pengaruh kebijakan kolonialisme Belanda tidak saja terasa pada kehadiran rumah-rumah di lingkungan perkotaan, tetapi juga di lingkungan kampung tua.
Rumah-rumah yang ditemukan penulis di berbagai perkampungan negeri di pelosok-pelosok Provinsi Lampung, rata-rata dibangun pasca keluarnya kebijakan pemerinah Hindia Belanda soal “pelarangan penebangan pohon”, sekitar akhir abad ke-19. Bangunan yang berdiri sebelum larangan muncul, atau sebelum pengaruh kolonialisme Belanda tiba di lingkungan masyarakat adat Lampung sekitar decade 1700 atau akhir abad ke-17 sampai akhir abadke-19, sulit menemukannya. Padahal, bangunan pada priode inilah yang memiliki kekhasan tradisi arsitektur masyarakat Lampung.
Rumah-rumah yang dibangun masih sederhana, baik pembagian ruang maupun bentuknya. Sebagaimana rumah-rumah tradisional yang ditemukan di Kepulauan Asia Tenggara dan sebagian daratan Asia, ciri khas berupa umpak, lantai yang ditinggikan sehingga membentuk kolong di bagia bawah lantai, atap berpuncak dengan bubungan yang dipanjangkan, dan ujung dinding muka keluar.
Melihat ciri-ciri khas ini, bisa dikatakan bahwa tradisi arsitektur masyarakat Lampung telah ada ribuan tahun jika titik asal mengacu pada tradisi arsitektur yang dibawa para pelaut Astronesia. Artinya, tradisi arsitektur masyarakat Lampung sudah muncul bahkan sebelum pengaruh budaya Hindu-Buda muncul pada abad ke-9 sampai abad ke-15.
Sepanjang ribuan tahun jika titik asal tradisi arsitektur dari pelaut Astronesia, pastilah sebuah era yang sangat panjang dan meninggalkan nilai-nilai tradisi yang sulit untuk diubah oleh pengaruh budaya Hindu-Buda. Faktor inilah yang ditangkap para arkeolog ketika mereka menyimpulkan adanya tradisi arsitektur yang kuat dari masyarakat awal yang memengaruhi arsitektur Candi Borobudur atau Candi Lara Jonggrang. Artinya, meskipun arsitek pada masa Hindu-Buda (saat Candi Borobudur maupun Candi Lara Jonggrang) dibangun sangat dipengaruhi oleh bentuk-bentuk arsitektur India, namun kedua candi yang merupakan arsitektur klasik di negeri ini ternyata tidak sama persis dengan arsitektur India karena dipengaruhi oleh budaya arsitektur masyarakat asli.
Nilai Sejarah
Dengan cara yang sama, arsitektur khas Lampung juga bisa ditelusuri jejak-jejaknya pada bangunan-bangunan yang ada saat ini. Rumah-rumah yang masih memiliki disain arsitektur tradisional dengan ciri umumnya denah berbentuk bujur sangkar (persagi), berbahan baku kayu, berdiri di atas umpak batu, lantai dinaikkan, bagian depan dimajukan, dan memiliki tangga masuk ke rumah, sedikit banyak pasti mengandung sejarah tradisi arsitektural Lampung. Rumah-rumah itu dapat dipergunakan untuk mengetahui sejarah kebudayaan masyarakat yang tinggal di bagian paling Selatan dari Pulau Sumatra ini. Karena rumah tradisional merupakan ekspresi budaya suatu masyarakat, sehingga siapa pun yang mencoba memahaminya akan segera tahu bahwa kebudayaan Lampung sangat kuat dipengaruhi oleh kebudayaan pelaut-pelaut Austronesia.
Berbeda halnya dengan bangunan-bangunan tradisional yang banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Pulau Bali, yang segera dapat dipastikan sebagai ekspresi budaya masyarakat yang menganut kebudayaan India zaman Hindu-Budha. Bangunan-bangunan tersebut berdiri di atas tumpukan batu sebagaimana acap ditemukan dalam desain arsitektur bangunan candi dan tempat-tempat ibadah. Rumah-rumah tradisional milik masyarakat Lampung, memiliki ciri khas berupa berdiri di atas tiang atau memiliki fondasi yang dinaikkan. Kita mengenal rumah semacam ini sebagai rumah panggung dimana rumah tersebut memiliki tiang-tiang tinggi berkisar 1,5 meter sampai 2 meter, sehingga membentuk sebuah kolong di bawah lantai. Hampir semua rumah tradisional yang ada di kawasan Pulau memiliki fondasi sedemikian rupa, sehingga secara filsofi fondasi serupa itu bukan khas rumah tradisional Lampung. Fondasi semacam ini pun sebetulnya bisa ditemukan di lingkungan masyarakat penganut kebudayaan Dayak Kenyah, Betawi, Jawa, Sumba.
Bahkan, di hampir seluruh di kawasan Asia Tenggara dapat ditemukan rumah tradisional dengan fondasi semacam ini. Sebab itu, bisa disimpulkan bahwa fondasi rumah yang ditinggikan menyebar di beberapa tempat di kawasan Asia Tenggara, sedang kawasan ini kita tahu merupakan daerah penyebaran Austronesia. Dengan begitu, rumah tradisi masyarakat Lampung sangat kuat dipengaruhi oleh kebudayaan Austronesia. Dari simpul ini kita bisa melacak masyarakat seperti apa penganut kebudayaan Lampung, yang sudah barang tentu memiliki kemiripan-kemiripan dengan masyarakat penganut-penganut kebudayaan lain yang ada di Pulau Sumatra. Jika kita bandingkan dengan masyarakat di Sumatra Selatan, yang bersebelahan dengan Lampung, dalam soal tradisi membangunan rumah kedua penganut kebudayaan ini memiliki banyak kesamaan. Bahkan, rumah tradisional milik masyarakat Lampung hampir tidak bisa dibedakan dengan rumah tradisional milik masyarakat Palembang banyak ahli di Lampung yang membuat batasan bahwa rumah tradisional Lampung memiliki struktur dan bentuk atap yang berbeda dari rumah tradisional milik masyarakat Palembang yang khas berbentuk limas, sehingga rumah tradisional mereka disebut juga rumah limas. Tetapi batasan itu sangat picik, karena rumah tradisional yang atapnya berbentuk limas banyak ditemukan di lingkungan masyarakat Lampung, begitu juga sebaliknya. Jadi, soal bentuk atap yang berbeda tidak dapat menjadi patokan karena bentuk atap itu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan asli yang membawa dan memperkenalkan tradisi membangun rumah tersebut. Perbedaan bentuk atap rumah tidak mengandung filosofi apapun melainkan lebih dikaitkan pada kondisi alam dari daerah dimana rumah tersebut dibangun.
Rumah bagi masyarakat tradisional sama seperti kerajaan, tetapi yang paling penting rumah pada awalnya berfungsi sebagai tempat berlindung dari segala bentuk gejala alam. Karena itu, khasanah arsitektur rumah-rumah tradisional muncul sebagai antisipasi manusia terhadap kondisi alam di lingkungannya, sehingga untuk mengantisipasi curah hujan yang tinggi masyarakat tradisional akan membangun bentuk atap yang membuat air hujan tidak merembes ke bagian dalam rumah. Faktor curah hujan ini menjadi pertimbangan karena sebagian besar atap rumah tradisional menggunakan ijuk atau alang-alang, yang daya tahannya sangat tergantung pada tingkat kekeringannya. Itu sebabnya, di beberapa masyarakat yang rumahnya memiliki fondasi bertiang tinggi, acap mengasapi atap rumahnya dengan cara membakar sesuatu di kolong rumah. Asap dipercaya dapat mengawetkan alang-alang dan ijuk.
Melihat struktur bangunan tradisional Lampung, sama artinya dengan melihat struktur simbol dari kebudayaan masyarakatnya.
Jika defenisi kebudayaan seperti ditawarkan Geertz bahwa kebudayaan adalah seperangkat teks-teks simbolik, maka kesanggupan manusia untuk membaca teks-teks tersebut dipedomani oleh dan dalam struktur-struktur upacara yang bersifat metafor, kognitif, dan penuh dengan muatan emosi dan perasaan. Dengan begitu, penulis meyakini bahwa tradisi arsitektur masyarakat Lampung sangat universal sebagai warisan masyarakat pelaut Austronesia, dan jejak-jejaknya bisa ditemukan di sebagian besar wilayah Nusantara.
















Rumah Tradisonal Suku Baduy - Banten
 





Rumah Kebaya Adat Betawi/DKI Jakarta 






Rumah Tradisional Sunda












Rumah Tradisional Jawa Tengah 














Rumah Tradisional Yogya






Rumah Tradisional Jawa Timur & Madura









Rumah Adat Tradisional Bali







Rumah Adat Tradisional Sulawesi Selatan Rumah Adat Tana Toraja 










                                     





                                                                       

























Rumah Adat Tradisional - Sulawesi Tenggara










Rumah Adat Tradisional Sulawesi Barat


                                         





                                     






Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tengah






Rumah Adat Tradisional Sulawesi Utara

























Rumah adat Banjarmasin - Kalimatan Selatan
















Rumah Adat Tradisional Kalimantan Barat










Rumah Adat Tradisional - Kalimantan Timur










Rumah Adat Tradisional - Kalimantan Tengah













Rumah Adat Tradisional - Maluku












Rumah Tradisional  Nusa Tenggara Barat





























Rumah Adat Tradisional - Nusa Tenggara Timur






























Rumah Adat Tradisional - Papua







Rumah Adat di Kari Wari Papua

Rumah Honey Perkampungan di Papua



Rumah Adat Kepala Suku di Papua

Rumah Tradisional Suku Menyah


Rumah Tradisional Kaki Seribu




Rumah Tradisional Suku Zulu



Rumah Tradisional Suku     - Dili, TIM-TIM /Timor Leste